Khadijah

“Kamu tahu tentang Khadijah?”,

“Ya,tentu saja. Kenapa?”,

“Jika kamu bertemu dengan beliau, apa yang  ingin kamu tanyakan?”,

“bagaimana perasaannya saat mendapat salam dari Maha Raja Semesta melalui Jibril..”,

“….”,

“Bisakah kau bayangkan? seorang perempuan biasa,mendapat salam dari Tuhannya?bisakah? bagaimana ia mampu menetapi hatinya dalam tawaddu’? menikahi laki-laki paling mulia di Bumi dan mendapat salam dari Yang Maha Pengasih. Perempuan biasa seperti aku pasti akan sulit menyembunyikan bahagia dan rasa bangga. Tapi Khadijah, bukankah awalnya hanya perempuan biasa pula?”,

Perlahan gelap mulai merambati langit. Gemawan malam masih setia bergulung, menyembunyikan rinai bintang. Dua sosok manusia di bentang jarak yang berbeda hanya mampu menekuri dirinya masing-masing, dalam dialog panjang yang belum tunai, tentang Khadijah, perempuan mulia yang kini sedang menyenandungkan kebahagiaannya di dalam Surga.

Iklan

Gandari

Adalah Gandari,

Sosok Ibu yang ingin sekali saya temui,

Lalu saya ajak berbincang,

Tentang perjuangannya,

Mendidik dan membesarkan seratus orang Kurawa di bumi Hastinapura,

Tentang ketabahannya,

Menghadapi tabiat banal anak-anaknya,

Juga tentang ketegarannya,

Melihat mayat-mayat anaknya, satu demi satu, di padang Kurusetra..

Pada Gandari,

Ibu pertiwi mungkin bisa membagi gelisahnya,

Tentang anak-anaknya di bumi Nusantara,

Yang bersikap barbar sesuka hati

Namun cinta kasihnya masih terus saja bertumbuh..

 

Selamat hari Ibu..

Surabaya, 22 Desember 2012

Gambar

I Love you, My Holy Mother..

My Mom,

She teaches me how to keep dancing in the rain

And enjoy the storm

She shows me how to deal with insanity in life

In her way of raising me and loving me,

In the midst of randomness

She delivers implicitly,

That the only reason to keep her alive is us, her children..

She’s the proof of God’s miracle that does exist

Which everything could be happened sometimes, somehow, above our expectation..

I love you, Mommy..

My Holy Mother..

Gambar

Tentang Perempuan dan rasa sakit

 

Perempuan itu,

kelak akan mengalami sakit yang teramat luar biasa,

Memang sakitnya tak kan se-sakit sakaratul maut,

Tapi ia bertaruh nyawa..

Sakitmu kini bisa jadi tak seberapa dibanding sakit yang kelak kau alami..

Menghadirkan sosok bernyawa dari rahimmu..

Karena itu,

nikmati saja pedihnya..

Anggap saja kau sedang melatih diri untuk menghadapi sakit yang lebih hebat,

Bukankah kau ingin jadi sebaik-baiknya perempuan yg menyandang dua gelar kehormatan?

Sebagai Ibu dan sebagai Istri..

Karena itu..

Beranilah,

hadapilah,

Dan menguatlah dengan ujian hati juga keimanan..

Yakin kamu bisa melaluinya dengan tabah,

Sudah fitrah manusia mampu menghadapi

bahkan menyelesaikan tiap masalah yang datang padanya

Bersabarlah..

Dan teruslah berdoa

Dan khusyukkan sholatmu, juga dzikirmu

Sebab itu tameng terampuh hati yang rapuh…

Ingat.. mungkin memang begini proses yang harus dilalui,

Pelan-pelan saja.. biar terjaga langkahmu.. biar terbimbing tujuanmu..

Sang Khalik melihatmu berjalan ke arahNya..

Gambar

Di antara pecah aroma kopi…

1.

Sampai kapan kita hanya berbalas sajak?

Waktu tak lagi menghitung detik ke menit, menit ke jam, jam ke hari,dan seterusnya hingga bilangan abad..

Waktuku kini dalam hitungan menunggu kau datang dan menawarkan secangkir kopi hitam kepadaku..

Bukan lagi bersajak kopi,

Apalagi kopian sajak..

2.

Abstrak,

Ku gambar sketsa wajahmu dengan garis bening di bidang berembun. Setiap detik latar belakangmu berganti seiring keretaku yang makin melaju digerakkan mesin rindu. Ku meraba mata angin mengendus kutub-kutub udara yang basah mereka-reka, di mana engkau akan berwujud

3.

Mungkin ini salah,

Tapi aku sempat mengheningkan sejenak hadirmu,

Diantara rimbun pagi yang membisikkan kerinduan..

Dan selalu..

Ada sapa hangat dari senyapnya kopi pagiku..

Yaitu ceriamu yang membumbung di sela sela uap robusta..

4.

Ku tahu ini msh jauh dari jadwa; biasa qta mengepul robusta di pagi hari,

Ku tau kau sangat disiplin dalam ritual ini,

Tapi bolehkah kali ini diriku merayu padamu,

Bisakah kita menyeduh kepekatan sedikit lebih cepat?               

 

5.

Aku benci kepekatan yang menjauhkan kita.
Aku merapal mantra untuk mengusirnya,…
Mari kesini,
aku tunggu di terminal tempatku bersandar
telah ku kumpulkan kepingan2 cakram berisi cerita,
agar dpt kau putar vinyl2 hitam ini,
sambil mengalunkan dendang secangkir cappucinno di teras bianglala

6.

Aahh Cinta..
Ktk kau sebut cappucino, kau terasa mgkhianati kepekatan hitamku.

7.

Siapa bilang aku mengkhianatimu?
Ampas hitam sudah tandas,
sepenggalah di atas bayangan awan siang tadi,
hanya sachet cappucinno yang tersisa,
Besok, kita racik lagi seduhan hitam yang kau cintai itu.. =)

8.

mungkin senja esok masih lama
tapi harapku masih sama
mnunggumu di ujung jalan
saat senja #efektdkngopi…
=)

9.

Ku temui kau nanti di ujung jalan sana,

Di antara pecah aroma kopi dan kelam langit yang menua.. =)

 

Ini sajak berbalas antara saya dan sahabat saya yang menetap di Pulau Bangka,namanya Gusti Indah. Kebetulan kami sama-sama menyukai kopi dan puisi juga bercita-cita ingin mengunjungi setiap warung kopi yang ada di Manggar, Belitong. Karena di sana terkenal dengan sebutan “kota 1000 warung kopi”. Nomor sajak ganjil adalah saya dan sajak genap adalah Gusti Indah. Dan kami, sudah terlalu rindu untuk bertemu dan menghirup lagi ruap aroma kopi saat pagi sambil menikmati hembusan angin di Pelabuhan Muntok, Bangka…